Emoji Jorok

9eb65975ab4f197bb8e2c238507fecafBeberapa waktu yang lalu, jomblo semata wayang saya tiba-tiba mengirimi  pesan singkat, benar-benar singkat, cuma satu kalimat tanya pendek. “Mbak tau emoji paling jorok?” saya hanya menjawab ala-ala Trio Detektif, tiga tanda tanya. Balasan yang dikirimkan pada saya membuat saya kehilangan nafsu makan pagi itu. Jejaka tanggung 18 tahun itu mengirimkan emoji 🙂 bayangkan! Dan kemudian sekian paragraf masuk ke online chat saya, cerita tentang gundah gulana jomblo yang kelamaan mbribik sang pujaan hati, hingga tikungan tajam membuatnya musti rela melepaskan sang gadis idaman. Untung dia tidak pakai SMS ngirimnya, jadi tidak menyalahi kaidah SMS sebagai media untuk mengirimkan sebuah pesan pendek. Maklum, saya masih kadang takjub dengan beberapa orang yang kirim SMS lebih dari panjang laporan transaksi internet banking salah satu bank yang sekali kirim memakan tiga space -sungguh ini sudah penyalahgunaan SMS-

Namun kemudian, saya jadi benar-benar memikirkan salah satu ikon emoji, yang menurut adik saya paling jorok diantara semua emoji yang ada.

Sekitar tahun 1999, om Shigetaka Kurita, salah satu tenaga pengembang perusahaan telekomunikasi Jepang, NTT DoCoMo, berinisiatif untuk membuat komunikasi teks elektronik menjadi lebih simple dan menyenangkan. Maka kemudian si om bermata sipit ini membuat 172 set emoji pertama berukuran 12×12 pixel. Dari situ kemudian emoji, simbol yang meringankan tugas jempol kita jadi berkembang hingga saat ini. Terima kasih om Shige, tapi sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya mau nanya, om agamanya apa ya?

Ternyata adik saya menganggap emoji 🙂 jorok karena sebenarnya dari sekian banyak ikon, emoji 🙂 paling itu tidak bisa ditebak maknanya. Nah kok bisa? Ya, karena 🙂 boleh jadi sebenarnya tidak benar-benar tersenyum. Saya jadi ingat dengan seseorang yang senantiasa tersenyum dalam situasi apapun, serius, dalam situasi apapun, hingga saya sering jeri saat merasakan apa yang berusaha diredam dibalik senyum itu.

Begitu dasyatnya kah sebuah senyum, hingga mampu menjadi tameng yang sempurna akan segala rasa, bahkan membuat sebuah simbol jadi dituduh, jorok?

Menurut kajian ilmiah, senyum, ekspresi yang ditandai gerakan di sekitar sudut bibir dan mata ini mampu memicu beberapa elemen tubuh untuk melepaskan dopamin, hormon yang menumbuhkan kebahagiaan. Pada saat yang bersamaan juga terlepas endorphin, sejenis pain killer alamiah, dan serotonin. Hormon-hormon ini mampu membuat perubahan perasaan dan pikiran, sehingga kita kemudian menjadi merasa tenang dan nyaman, serta mengurangi rasa sakit yang sedang diderita. Lebih jauh, menurut sebuah study, senyum juga mampu membuat proses penyembuhan penyakit jauh lebih cepat, karena mampu mengurangi produksi hormon efinefrin dan kortisol yang menghambat proses penyembuhan. WOW!!!

Beberapa filsuf juga membicarakan soal senyum ini, menurut mereka, senyum merupakan “meluapnya tenaga”, rasa senang memiliki dinamika yang menimbulkan tenaga lebih, yang jika disalurkan dengan baik maka akan mampu mempengaruhi sekeliling. Di sisi lain, senyum dan tawa bersifat asasi, yang muncul sejalan kemanusiaan kita, yang menjadi bahasa dalam keseharian hidup kita. Lebih ekstrim ada yang berpendapat, begitu dekatnya tawa dengan kita, hingga orang yang hilang akalpun masih tetap bisa tertawa.

Dari sini kemudian saya memahami kenapa tuduhan -emoji jorok- itu hadir. Ya, sebenarnya bukan emojinya yang jorok. Tetapi penggunaan emoji itu sendiri. Ketika ikon 🙂 kemudian menjadi sebuah mekanisme perlindungan yang memaksa diri untuk melepaskan hormon-hormon penenang alamiah, di situ terjadi penyalahgunaan emoji.

Saya tidak memungkiri bahwa saya pun juga pelaku penyalah-guna emoji, bahkan mungkin kita semua juga melakukannya. Alasannya boleh macam-macam, namun saya rasa, alasan umum yang melatarbelakangi karena kita memiliki nilai lain yang mendorong kita untuk berlaku yang sebaliknya. Buat apa membagi duka kepada orang lain yang mungkin tidak tahu nestapa apa yang sedang dirasa? Bukannya itu sungguh tidak adil buat orang lain? Bagi saja kebahagiaan. Atau alasan lain yang tidak kalah absurdnya, seperti, “ah, aku sungguh menyayanginya hingga tak sanggup mengatakan bahwa kamu telah mengecewakan aku”. Serius, saya semakin yakin, bahwa kita memang benar-benar bangsa yang permisif.

Namun yang jelas, buat saya, soal senyum dan emoji yang jorok ini, mengingatkan pada soal lain -tulus- Saya rasa, jika apa yang dilakukan ini dilatarbelakangi ketulusan, maka apa tidak akan ada beban yang mengganjal di dalam diri, dan tetap merasa bebas lepas. Minimal saya tidak sering dapat komentar yang meski terdengar rasis namun membuat saya mampu menyunggingkan senyum simpul, “Dasar Jawa!”

 

Portal Mimpi

Ditengah dokumen yang menunggu untuk dikunyah