Let It Be…

“Kesempurnaan bukan hanya soal kendali, tetapi juga tentang rasa lepas”

Sederet kalimat itu kembali ditemukan diantara catatan-catatan pekerjaan saya yang terserak di salah satu buku bersampul kulit imitasi warna hitam milik saya. Dari tanggal yang tercantum di sana, kalimat sakti itu tampaknya terekam pertengahan tahun 2014, diucapkan oleh seorang yang tidak pernah membiarkan energi saya yang berlebih ini menguap begitu saja. Sudah dua tahun, dan sudah terlupakan, sampai kembali menohok mata saya, ketika harus mencari catatan rekam jejak pekerjaan masa lalu.

Ya, sebagai sesorang yang sering dipuji — memilih kata yang lebih positif — daripada bilang suka disindir, perfectionist. Pada saat yang sama, kalimat sakti tadi mengingatkan saya pada satu kata lain dalam jajaran kata benda Bahasa Indonesia — Kompromi.

Sebenarnya, buat saya, dalam melakukan apapun, termasuk pekerjaan, mau sekenanya atau mencurahkan segenap energi dan berepot-repot ria, itu capeknya sama saja. Jadi kalau capeknya sama, maka hasil yang berbeda lah yang kemudian menjadi gantinya. Meski kadang jadi nyebelin bagi orang lain, tetapi kepuasan yang diraih kadang jadi obat penat tersendiri buat saya. Bukan hanya untuk saya, tetapi juga bagi orang yang merasakan dan menikmati hasil jerih payah itu. Rasanya tuh gimana gitu, meski sebenernya juga self sentris banget. Jadi buat saya, tidak ada salahnya untuk jadi orang yang, ehm.., sedikit perfectionist, hehe 🙂

Salah satu ciri khas orang yang perfectionist, yang mampu saya identifikasi, mungkin adalah, selalu merasa bahwa segala hal musti ada dalam genggamannya, dan akan kalang kabut kalau itu tidak terjadi. Sungguh ini bukan curhat, tetapi memang demikian yang saya rasakan, secara subyektif atas obyek, diri saya sendiri. Ruang keinginan seringkali mesti head to head dengan ruang kenyataan. Apalagi saat tenggat mulai datang menghampiri dan mengantri, adakalanya saya harus memilih, antara kesempurnaan dalam kerangka pikir saya, atau memilih untuk berdamai dengan hasil maksimal yang dihasilkan pada saat itu, dan menetapkan pikir, bahwa ruang belajar dan ruang bertumbuh selalu ada untuk menjadi tempat bergelung yang nyaman.

Karena pada kenyataannya, berkutat dalam ruang keinginan seringkali membuat kita, kita? saya! terjerumus pada kumparan sebuah proses hingga ke detail-detail terkecil yang boleh jadi tidak terlalu membawa dampak yang signifikan, meski keberadaannya terkadang diperlukan –masih maksa– Ibarat prosedur standar bercinta, foreplay kemudian menjadi prosedur yang begitu rigid, sampe dihitung berapa derajat posisi kemiringan kepala, supaya titik G dapat dieksplorasi secara maksimal, hingga foreplay kemudian mampu dilakukan lebih dari 45 menit, dengan hasil njleput di akhir karena sibuk berkutat di proses awal. Melupakan bahwa masih ada tahapan lain yang musti dilewati, dan sungguh, bukan soal itu juga esensinya, ketika tujuan utamanya kemudian jutaan endorphin mulai terlepas dan  menyesaki setiap sel syaraf.

Ya, ruang proses memang penuh jebakan. Jebakan akan keinginan mengendalikan yang berlebihan dan melupakan ada satu hal yang meski tidak kasat mata, namun keberadaanya sungguh nyata. Naluri dan intuisi. Dua hal ini yang menurut saya, kemudian berkorelasi dengan kompromi sehingga mampu merayakan kemenangan kecil yang didapat dalam berproses, hingga mampu menikmati rasa lepas.

Memang tidak gampang membiarkan diri begitu saja menikmati rasa lepas, ketika tubuh, hati dan pikiran senantiasa ada dalam kondisi –the limit doesn’t exist– kejar dulu sampai di titik tertinggi batasan yang ditetapkan atas kemampuan diri sendiri. Waduh…, selain perfectionist ternyata juga -semoga hanya sedikit- masokis  saya sepertinya, wong dengan sadar suka menyiksa diri sendiri mengejar batasan yang sebenarnya tidak ada, dan hanya ada di kepala saja. Ah…, sebuah kesadaran baru atas diri sendiri.

Mungkin, sejatinya rasa lepas terkait erat dengan setiap titik penemuan relevansi baru atas diri sendiri. Bisa jadi ini yang membuat setting tidak ada batasan dalam hidup kecuali yang kita tetapkan itu kemudian menjadi, yah, bisa dimengerti. Karena pada saat yang sama, kita akan senantiasa terus mengengok ke dalam. memetakan potensi diri sendiri, lalu mulai melihat jauh ke depan dan mulai menyusun strategi untuk memobilisasi segenap potensi yang ada di luaran, dan menemukan tempat yang pas untuk kita menempatkan posisi, sehingga keberadaan kita menjadi relevan. -Tanpa mengurangi rasa hormat, saya seperti melihat ruangan kelas saat training mobilisasi sumber daya dilaksanakan, dengan saya sendiri di depan sana, huaaaassyuuuuu!!!

Lalu bagaimana cara menemukan relevansi diri jika kemudian kita kadang tenggelam dan hilang? Di sini saya rasa naluri dan intuisi yang semestinya melakukan perannya.

Setiap mahluk di dunia terlahir dengan kemampuan untuk bereaksi terhadap rangsangan tertentu, perilaku terpola yang tidak perlu dipelajari, namun telah ada sejak kelahirannya, dan turun temurun, akrab disenut naluri. Jika demikian, bisa jadi naluri konservasi yang ada dalam diri saya memang sudah bawaan orok, yang mewujud dalam bentuk penghematan air, dan meminimalisir limbah rumah tangga, khususnya yang berasal dari kamar mandi 😀

Di sisi lain, mahluk hidup juga diberkahi dengan kemampuan untuk memahami sesuatu seolah pemahaman itu tiba-tiba saja datangnya dari luar kesadaran, tidak perlu penalaran rasional dan intelektualitas, intuisi. Misalnya rasa tidak enak yang tiba-tiba dirasakan saat sang kekasih sibuk dengan layar ukuran 5,5″, jadi lebih rapih dan wangih, senandung cinta menyiul dari mulutnya, nah! silakan bersiap pada approval kartu kredit baru :p :p :p

Dalam upaya penemuan relevansi atas diri sendiri. Naluri dan intuisi lah yang akan menuntun kita pada titik-titik posisi yang tepat. Menurut pengalaman saya, titik-titik relevansi itu adakalanya suka saya abaikan, namun tetap saja akan dituntun ke sana, melalui jalur apapun dan dengan cara yang kadang tidak mampu terjelaskan dengan kata-kata. Dan hasilnya, capaian yang di dapatkan melalui titik itu mampu menorehkan makna tersendiri, hingga menjadi pantas diletakkan dalam milestones kehidupan. Jika sudah begini, maka saya akan tersenyum puas, mengisap dalam menthol rokok saya, dan berkata, saya melakukannya. Biarkan saja terjadi…

 

Masih di Portal Mimpi

Masih hari minggu, 15 Jan 2017

Masih…, belum mandi