kolom kartu 8,7 x 5,5 cm

Menjadi orang tua tunggal boleh jadi bukan cita-cita bagi orang jamak. Namun, jika kemudian perjalanan hidup membawa diri pada lakon orang tua tunggal, ini baru namanya petualangan.

Masih ingat ketika seorang sahabat lama mengirimkan pesan secara personal, bertanya dengan hati-hati tentang status single saya. Dan dari percakapan lewat tulisan kami itu, saya kebayang ekspresinya, sahabat saya ini sangat ekspresif orangnya. Apalagi saat dia tahu, bahwa saat itu adalah tahun ke empat saya menyandang status — janda. Mahmud Abas – mamah muda anak baru satu – pula. Dan kalimat terakhirnya saat menutup percakapan kami dan bikin saya terharu adalah, “hebat kamu, being single parent and stay happy with your life, tidak semua orang bisa setegar dan seenjoy kamu…” ini saya kutip benar-benar seperti apa yang diketiknya saat itu.

Saya kemudian mencoba mencari jawaban atas beberapa hal yang menggantung di benak saya tentang petualangan hidup, lakon sebagai orang tua tunggal, khususnya janda. Banyak yang berpikir menjadi janda tidak mudah. Namun apakah benar demikian adanya?!

Menyandang status janda di kultur timur yang makin lama terasa makin, ehm, timur ke tengah ini mungkin memang gampang-gampang susah. Gampang-nya lebih banyak kok, tuh ditulis dua kali. Catat!

Istilah “janda” dalam kultur timur boleh jadi merupakan terminologi yang seringkali bermakna negatif bagi perempuan, baik yang menjadi janda karena pilihan sadar atau karena (mungkin) tak memiliki kesempatan untuk memilih, bukan tak mampu.  Kolom status di KTP saya tertulis cerai hidup, awalnya saya tidak terlalu memperhatikan itu, namun suatu ketika saya memperhatikan dengan sungguh selembar kartu mika berukuran 8,7 x 5,5 cm, yang muncul di saat-saat tertentu untuk menegaskan identitas diri. Ternyata, pernyataan atas takdir pun ingin diungkap di sana. Dalam sistem administratif kependudukan negeri ini, ternyata seseorang yang pernah mendapatkan status menikah di kolom status pernikahan, kemudian mendapatkan kategori lain menjadi cerai hidup atau cerai mati, tergantung dokumen yang dilampirkan pada saat kita memperbaharui dokumen, akta cerai atau surat kematian.

Buat saya ini sedikit mengherankan, meski belum terpikir untuk bikin tuntutan atas kolom status pernikahan KTP, yang membuat saya kesulitan saat mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan pinjaman lunak dari pihak lain. Namun sebelum soal utang-utangan itu, buat saya, pembedaan antara cerai hidup dan cerai mati itu membuat urusan administratif pun seolah ingin bergosip soal  asal muasal status relasi terbaru seseorang, yang menurut saya ini sama sekali tidak ada urusannya dengan administratif, kecuali jika tagihan makan malam belum dibayar saat kesepakatan mengakhiri relasi terjadi.

Dalam konteks janda, yang ditinjau dari sisi sosial masyarakat timur yang saya rasakan, seolah begini nih situasinya, objeknya sama -janda- tetapi perempuan yang menjadi janda karena ditinggal mati pasanyan seolah memiliki tempat yang lebih diterima, karena dianggap ada campur tangan takdir di sana. Ini membuat saya bertanya-tanya, bukannya kita bergerak juga berdasarkan hukum alam? Jadi apapun penyebab terjadinya perceraian, itu juga tidak lepas dari hukum alam, takdir alam.

Apalagi kalau sang janda, masih berusia produktif lagi rupawan, maka konotasi negatif, entah kenapa jadi melekat erat. Seolah dalam radius 1 m keliling itu akan memunculkan sinyal peringatan warna ungu bagi lingkungan sekitarnya. Sialnya lagi, balik ke urusan utang-utangan tadi, dua kata cerai hidup di kolom status pernikahan KTP itu membuat urusan jadi sulit, karena dianggap para janda cerai hidup ini tidak memiliki penjamin, meski mampu menunjukkan bukti kemampuan finansial yang cukup untuk membayar cicilan bulanan. Tapi okelah, setidaknya saya jadi punya satu jawaban jika nantinya saya berpikir untuk menikah lagi, trus ada yang bertanya kenapa, “supaya bisa nyicil KaPeeR.”

Sebelum makin nyinyir soal terminologi janda, mari lanjutkan saja. Menjadi janda dan memiliki anak, artinya harus siap untuk membesarkan anak sendiri. Saya beruntung, saya masih memiliki orang tua yang bersedia saya titipi si nona kecil. Namun apa kemudian setelah nitip itu masalah selesai?! Tentu tidak, justru tantangan semakin muncul. Bagaimana kita tetap tahu perkembangan anak, memikirkan tentang kesejahteraan dan keamanan anak, serta banyak hal printilan lain, yang musti dipikirkan dan diselesaikan sendiri.

Saya sungguh angkat topi pada para janda yang membesarkan anak mereka sendiri dan mampu mengantar anak mereka pada impian terbesar si anak. Dan sedikit sensitif pada para ibu yang dengan heroik membanggakan mampu merawat anak sendiri dan nyinyir pada para perempuan lain yang kebetulan nitip anak ke orang tua. Saya rasa, mestinya kaum ini harus bersujud syukur tiap hari, tidak kehilangan momen-momen penting dalam perkembangan anak yang pastinya tidak bisa diulang, bisa peluk anak tiap hari, dan kemewahan lainnya. Saya tidak mengeluh ketika saya hanya bisa mules saat dapat SMS kalau Hening demam, atau tiba-tiba jadi panik saat dia bercerita dengan suara tersipu-sipu, tentang kakak kelas ganteng pegang kucir rambutnya, yang sekarang malah berkembang jadi kakak sahabatnya menawarkan boncengan sepeda untuk nganter pulang. Hemboooookkkk, ini bikin mual dadakan lho… Sungguh!! Jika mampu, saya akan menukar dengan apapun hanya demi bisa ngalor-ngidul bawa katana – pedang panjang yang dibawa samurai- hanya untuk mengawal tuan putri saya. Serius, anda semestinya banyak bersyukur,dan berdoa mbak bro.

Memilih lakon sebagai janda dan di saat yang sama berlaku sebagai orang tua tunggal, membuat saya benar-benar memaknai dengan sungguh satu kata, KEBEBASAN.

Ya, kebebasan. Satu hal yang mungkin langka dirasakan dan didapatkan oleh banyak orang di sekitar ini. Dalam kerangka peran orang tua tunggal, saya bisa bebas meletakkan diri saya dalam peran apapun untuk Hening, tidak perlu berbagi peran dengan orang lain, mungkin sedikit egois, namun apalagi yang harus saya gadaikan demi sebuah moment saat saya bisa berdiskusi tentang hidup dan menjalani kehidupan bersama anak saya dengan setara? dan untuk saya, ini buah kebebasan luar biasa yang saya nikmati manisnya.

Lalu dalam soal lakon being single itu, salah seorang tokoh dalam hidup saya, pernah bilang, berbahagialah kamu dalam situasi saat ini. Menurutnya, pernikahan merupakan penjara yang dipilih secara sadar, merupakan institusi yang berakhir urusan manajemen. Manajemen? ya manajemen keterlanjuran 😀

Saya masih ingat saat dengan sungguh doi berkata, “emang lu mau terjebak lagi di penjara yang lain?”  Saya awalnya hanya menganggap itu candaan semata, namun saat saya butuh sesuatu buat mendistraksi kepala saya dari kumpulan dokumen beragam ketebalan itu. Akhirnya saya memahami, situasi saya saat ini memang membuat saya bebas untuk menjadi diri saya sendiri, secara harafiah. Salah contoh sederhana, saya bisa seharian bergelung di atas kasur saya di hari libur, bangun hanya melakukan urusan yang tidak dapat diwakilkan di kamar mandi, membaca, lalu tidur lagi, begitu saja seharian -pemalas- Coba kalau saya ada pasangan, pasti saya akan diprenguti karena dia merasa saya egois atau apapun deh, terserah mau merasa apaan. Contoh lain, saya baru saja menyelesaikan kegiatan yang dilakukan dengan marathon, sebulan setengah wara-wiri bandara, di rumah paling banyak hanya dua hari, trus kabur lagi, begitu terus selama enam minggu. Ini bisa sangat runyam jika saya memiliki pasangan tetap, namun ketika saya sendiri, paling tidak salah satu kerumitan dalam hidup berkurang.

Akhirnya, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan selain mengucap syukur dan tegak mengangkat dagu menatap dunia, dan berkata, sahabat-sahabat kesayanganku, mari menikmati hidup yang hanya mampir nge-bir ini dengan melakukan hal yang memang benar-benar kita inginkan, sepenuh hati dan penuh kesadaran diri.

 

Portal mimpi, 2k170115,jelang mudik, masih belom mandi.