1 Lagi Kemenangan Kecil

Hari ini boleh dibilang hari yang bersejarah dalam hidup saya sebagai salah satu penghuni belantara ibu kota.

Ceritanya, pagi ini saya berkesempatan menikmati berjejal ria di dalam salah satu angkutan masal cepat nan murah meriah, KRL Jabodetabek. Sensasi deg deg sir saat terdorong keluar akibat rangsekan penumpang yang mau turun, serta perasaan khawatir kejepit, saat mata saya menangkap pemandangan tangan penumpang yang berpegangan tepat di atas pintu. Kebayang banget rasa sakit kalau secara engga sengaja pas pintu menutup itu tangan nyempil diantara dua panel besi yang akan kebuka lagi di stasiun berikutnya. Sebagai orang yang punya pengalaman buruk sama pintu — kejepit pintu mobil, karena teman yang turun duluan spontan menutup pintu saat saya hendak turun dan berpegangan di panel pintu — pemandangan itu, sungguh bikin perut mules. Belum lagi sensasi beragam aroma yang menghampiri hidung, untungnya masih pagi, jadi yang kecium masih aroma mas-mas yang mau berangkat kerja, dedek-dedek imut yang mau berangkat kuliah, bukan aroma minyak tawon yang pasti bakal bikin saya baper – bawa perasaan – karena ingat sama almarhum nenek saya.

Waktu turunpun juga sedikit heran, karena harus memutari kereta yang parkir dan harus melewati rel supaya bisa sampai ke seberang. Di sini saya merasa sebal, ini engga aman banget buat para penumpang menurut saya. Namun perasaan itu sesaat kemudian menjadi takjub, saat serombongan besar orang dengan manisnya jalan di tengah rel, dengan tujuan yang sama dengan saya, nyebrang! Saya sempat bertanya pada Khresna, sahabat yang menemani perjalanan saya pagi ini, kenapa tidak ada jalur untuk penumpang menyeberang dengan aman? Dan secara detail dia menjelaskan bahwa fasilitasi itu masih dalam tahap pembangungan, karena akan bla … bla… bla… Mendengar penjelasan itu, saya hanya manggut-manggut dan ber “owh..” saja, maklum, doi lebih expert soal per-KRL-an dibanding dengan saya yang belom tentu setahun sekali menggunakan fasilitas transportasi ini.

Lain pagi, lain siangnya. Pasca menuntaskan segelas iced coffee dan french fries dari salah satu merk francise yang terkenal dengan roti bundar berisi kombinasi daging tebal, timun, dan sayur. Saya kemudian memulai petualangan lain, naik KRL sendiri menuju ke markas. Sungguh, itu petualangan buat saya. Mulai dari beli tiket, nanya ke satpam – milih satpam ganteng dong nanyanya – jalur mana yang musti diambil, masuk gerbong, lalu mendapat tempat duduk, pengorbanan seorang petugas dengan bordir Commuter Line di dada bajunya. Lalu diam, mengamati masing-masing penumpang di sekeliling.

Pose yang paling umum adalah menunduk takzim pada smartphone, entah apa yang sedang dipekuri, mungkin berita terbaru soal princes yang terkenal dengan kata “manja” itu, atau mungkin sidang kopi vietnam yang engga kunjung selesai, atau mungkin tentang ayat 51 yang bikin heboh sosial media.  Pose yang paling epic tenti saja, kepala miring ke samping 45 derajat, badan sedikit ndlosor ke depan, mata memejam nikmat, mulut sedikit menganga – untung AC, saya sudah khawatir ada laler nyasar aja- , dan bunyi ritmis halus yang keluar dari mulut. Ini pose yang bikin saya iri sebenarnya, sebagai orang dengan pola tidur yang semrawut, sungguh, bisa pules di dalam gerbong KRL sepertinya anugerah tersendiri.

Sebentar saya kemudian merenung. Apa yang ada di sekitar saya ini merupakan situasi nyata kehidupan yang tertangkap pandangan mata saya siang ini. Boleh jadi diantara mereka akan mendiskusikan dan memikirkan tentang situasi politik, ekonomi, atau soal yang lebih sensitif, SARA misalnya, saat mereka ada di luar sana. Atau mungkin dalam salah satu atau salah tiga dari mereka sedang kalut karena besok belum tentu bisa makan. Namun di dalam gerbong ini, yang saya lihat hanyalah mahluk organik, berdaging, berrasa, dan berlogika, dengan kecamuk pikiran masing-masing. Sama seperti saya saat itu, sibuk dengan lamunan tentang sosok-sosok yang tiba-tiba berkelebat dalam kepala saya. Sosok-sosok yang membuat saya memiliki keyakinan, bahwa menjadi kosong dan menempatkan diri setara dengan mereka, merupakan kunci dari apa yang saya geluti belakangan ini.

Duh, sayangnya saya hanya melewati 4 stasiun saja untuk sampai di stasiun tujuan saya. Dan suara perempuan dengan nada datar dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris pun membuyarkan lamunan saya. Mikir sebentar, untung itu rekaman, kalau semisal engga, betapa kering tenggorokan dan bosan si mbak itu, bayangin, sehari ngomong yang sama berapa kali cyiiiiinnnn!!! Tapi…., hari ini saya sudah tahu arah menuju Bendungan Latuharhari kalau naik KRL hehe, kemenangan kecil yang saya capai hari ini.

Rumah Kemuning

Bentar lagi pulang, udah malem

Catatan: Foto diambil dari internet tepatnya dari indonesia-railway-news.blogspot.co.id,
Khresna engga mau motoin tadi, mungkin dia malu…