Penjelajah Waktu

Ungkapan, “pulanglah…, supaya kamu dapat kembali berjalan” mungkin memang pas untuk orang-orang yang memang rejekinya berada sedikit jauh dari kampung halaman. Meski pulang ke kampung halaman acapkali menjadi hal yang tidak mudah juga, baik dari sisi finansial maupun emosional. Dalam situasi saya, sisi emosional yang lebih berpengaruh sih, ketika kesenangan berasyik masyuk dengan tuan putri saya, mesti dikombinasikan dengan kerja keras menjaga ketenangan psikologis, saat semua orang tiba-tiba mengambil alih profesi saya sebagai fasilitator, dengan segudang pertanyaan yang powerfull semua. Sungguh, saya sampai berpikir, jangan-jangan nanti berujung saya harus bikin arpilerra – semacam patchwork berasal dari Chile yang digunakan para perempuan di Chile untuk menyuarakan isi hati mereka, saat rezim pemerintahan Agusto Phinocet berkuasa tahun 1973-1990, yang seenak jidat memisahkan para istri dari suami atau para ibu dari anak-anak mereka. Betapa saya mesti benar-benar berjuang keras untuk menghindarkan diri saya dari trauma akan segudang powerfull question ini dengan menyibukkan diri bersama tuan putri saya, gesek sana gesek sini, jalan-jalan, belanja ini itu, hasyah… ini kan pembenaran akan dompet yang tiba-tiba juga jadi ikut…, ehm, suci.

Namun sungguh, pulang memang satu hal esensial yang mampu menyatukan kembali diri yang mungkin terbelah oleh perjalanan waktu. Seorang teman bahkan dengan tegas menyatakan, merantaulah, maka kamu akan tahu arti keluarga. Saya secara pribadi, memaknai keluarga yang dia maksud bukan hanya keluarga inti  sendiri, namun juga segala printilan yang ada di kampung halaman. Apapun itu.

Pulang kemudian mempertemukan saya kembali dengan setiap bagian keping masa lalu saya. Cinta masa remaja, yang telah dewasa, dengan cara pandang dan pikir yang, sungguh, saya tidak yakin bahwa saya berhadapan dengan sosok yang sama.  Partner in crime masa ingusan, yang dengan tegas menyatakan, “kamu itu konsumsi formalin ya? dari dulu sampai sekarang tidak berubah, masih tampak asyik menikmati hidup”, lha saya pikir saya ini sudah berbeda banget padahal, meski bedanya di mana saya juga ga’ yakin-yakin amat, tapi saya sudah beda kok, paling. Namun dari sini, saya sadar bahwa kampung halaman, memang akan menjadi dasar yang membentuk masing-masing pribadi.

Perjalanan kembali menuju pada realita juga menjadi hal yang menarik lain. Sejenak menyempatkan diri untuk menemui sahabat lama, yang hanya dia sepertinya, orang yang mampu men-jancuk-jancuk-kan saya dengan sayang. Orang yang selalu mampu membuat saya sakit perut karena tertawa, teman yang dimana saya berada, jika dia ada di kota yang sama, akan menyempatkan mengunjungi saya. Berbagi segala cerita dan pemaknaan hidup. Sahabat yang dengan tulus dan sepenuh hati, meletakkan saya bukan sebagai sosok perempuan biasa. Sosok luar biasa yang saya kagumi karena perjuangan hidupnya juga tidak lewat jalan yang biasa. Ah, bro…, meski kamu keling, namun hatimu tidak pernah nampak keling bagiku. Tapi sungguh, jangan lagi bilang aku sekarang menjomblo karena aku kudet soal penyanyi yang digandrungi remaja saat ini lagi ya, pliiiiiiisssss…., langsung mak jleb brooooooo.

Sejenak bertualang ke masa lalu, akhirnya menjadi modal untuk tetap teguh melangkah di realita hidup saat ini. Segala hal yang entah apa yang akan terjadi tetap biarkan menjadi misteri. Tak perlu ribut untuk selalu menjawab segala tanya yang muncul dalam benak. Ini hanya soal perjalanan waktu. Dan sebagai penjelajah waktu, tugas kita yang paling utama mungkin adalah, nikmati waktu mu dengan sebaik-baiknya, jangan biarkan diri tenggelam dalam hampa. Yakinlah, selalu ada harapan yang tertinggal dalam kotak yang tak sengaja dibuka oleh Pandora.

 

 

Griya Mahkota F8, sesaat sebelum menyesaki ibu kota yang konon lebih kejam dari ibu tiri.