Jadilah Kehendak Mu

Jadilah kehendak-Mu, ya Tuhanku. Karena Engkau mengenal kelemahan di hati anak-anakmu, dan Engkau hanya memberikan beban yang sanggup mereka pikul. Semoga Engkau memahami cintaku – karena hanya itu satu-satunya milikku, satu-satunya yang dapat kubawa bersamaku ke kehidupan selanjutnya. Kumohon, jadikan cintaku berani dan murni; mampukan cinta itu bertahan menghadapi berbagai perangkap dunia. 

Jebol sudah bendungan saya kala saya sampai di akhir halaman 111 itu. Paulo Coelho senantiasa mampu menjungkir balikkan dunia ludic reading saya dengan caranya yang unik. Kali ini, om Coelho membawa saya pada apa yang dicecap dan dirasa oleh Pilar, seorang gadis skeptis akan cinta dari Soria,  yang harus bertemu dengan teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya. Perjalanan serta pilihan hidup Pilar dan kekasih masa lalu yang sampai akhir halaman 111 masih tidak bernama itu, membuat saya juga kembali belajar dan memaknai akan kesejatian cinta.

Ya, cinta yang sejati.

Di buku yang sama, om Coelho menyatakan -mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai, hingga menemukan percikan Tuhan di dalamnya-

Saya kemudian teringat pada diskusi pinggiran dengan seorang sahabat hati saya, yang dengan gagah berani menyatakan, bahwa saya termasuk golongan orang yang memiliki totalitas tinggi akan cinta, sehingga seringkali terjerumus dengan pasti sampai nyungsep-nyungsep saat cinta berbalik arah. Statement yang membuat saya melongo sejenak, lalu bertanya pada diri sendiri, apa iya? Dan kemudian mulai kembali membuka lembar demi lembar buku hidup saya, pada bab-bab tertentu. Menemukan kembali tulisan dengan cetak tebal, miring, bergaris bawah, berwarna merah, distabilo kuning. Penanda dan pengingat pada kecerobohan diri pada sebuah relasi. Halaaaaahhhhh….

Tapi kembali ke paragraf akhir halaman 111, ketika Pilar memohon dengan sungguh soal cinta yang berani dan murni, hingga mampu menghadapi perangkap dunia itu. Itu cinta yang seperti apa coba?

Mari kita coba bedah masing-masing kata ini. Lagi, menurut KBBI, cinta adalah suka sekali. Sedang dalam thesaurus Bahasa Indonesia, cinta memilliki nama lain sayang, kasih, kama (sanskrit), kasih sayang, kehangatan. Tidak terlalu dapat mendefinisikan arti kata ini menurut saya. Namun saya akan coba mendefinisikan dengan segenap keterbatasan saya tentunya. Cinta, suatu bentuk emosi yang berasal dari rasa tertarik yang kuat terhadap objek tertentu, yang kemudian memunculkan rasa kasih sayang yang kuat pada objek tersebut. Objek yang dimaksud bisa berupa mahluk hidup, manusia, binatang, dan tumbuhan, atau benda-benda yang tidak hidup.

Nah karena abstrak, cinta kemudian memerlukan penanda supaya mewujud. Saya teringat diskusi dengan salah satu imam aktivis kemanusiaan, di halaman belakang gereja nan sejuk dinaungi pepohonan rimbun, diantara kebul asap kopi dan asap rokok kami. Asli, sepanjang perjalanan asap nikotin saya, baru kali ini ngudut manis di pastoran, rasanya rodo piye-piye sedeph ngunu. Dalam diskusi siang itu, Romo bercerita tentang cinta yang memerlukan penanda, anak-anak muda yang menyakiti pohon dengan menorehkan “anu love itu” dikelilingi lambang hati besar, yang selang seminggu njuk terus kembali menyakiti pohon, ngorek-orek guratan karena sudah putus. Ini jenis cinta terlarang kayaknya ya, wong jadi melukai pohon yang gak bisa protes.

Atau lagi, cerita Romo, misalnya dalam keluarga Jawa khususnya, tanda cinta pasangan suami istri itu biasanya berupa hadirnya seorang anak, maka jika ada pasutri yang lama menikah tapi belum dikaruniai momongan, maka ada tradisi minjem atau ngasuh anak saudara atau tetangga, supaya cepet ketularan. Namun bagian epik nya soal pinjam meminjam ini bukan soal anak sih. Romo yang ampun mentok kocaknya itu membuat saya sejenak bego, sebelum akhirnya ngakak-ngakak, ketika beliau menyarankan pada para single, alih-alih bilang jomblo. Supaya cepet ketularan dapet jodoh, boleh coba kok minjem pasangan tetangga, saudara, atau teman. Saya kebayang ekspresi seisi gereja, karena hal ini beliau sampaikan pada kotbah Kamis Putih kemarin. Wong saya sendiri sudah gak jelas ekspresinya, antara sebel, miris, dan mentolo njiwit Romo.

Tapi sepertinya boleh dicoba, njuk kalau ada yang protes saya tinggal bilang, lha anjuran Romo begitu kok, sebagai umat saya kan manut saja. Justifikasi yang bersifat teologis dogmatis biasanya manjur. Urusannya sudah surga neraka sialnya. Mung guyon kok, guyon, tapi  yen ono sing arep nyilihi yo ra popo #eh

Balik lagi ah, sebelum kemana-mana. Nah, maka sesuai dengan definisi cinta yang ternyata juga butuh tanda. Maka kemudian ada hal-hal yang mengikuti sebagai akibat dari rasa sayang pada obyek itu. Pengorbanan, empati yang berlebih, memberikan bantuan, menuruti semua kemauan sang obyek, bahkan sampai pada hal-hal absurd yang lain. Di sisi lain, cinta merupakan hal yang sangat subyektif, hingga masing-masing individu kemudian memiliki hak secara penuh untuk mendefinisikan cinta-nya, sesuai dengan pengalaman pribadi masing-masing yang jelas tidak sama, satu dengan yang lain.

Kata kedua; sejati. Kembali pada KBBI, kata sejati memiliki makna yang sesungguhnya, murni, tulen. Dalam konteks keterkaitan dengan kata cinta, maka sejati yang di sini boleh jadi makna peneguh atau penguat dari kata cinta itu sendiri.

Cinta sejati kemudian, secara sederhana mungkin dapat dimaknai sebagai cinta yang tulus. Cinta yang mampu menemukan percikan Tuhan di dalamnya. Seperti kata mas Coelho sebelumnya. Memang tidak mudah untuk ditemukan, namun bukan berarti tidak mungkin, karena Tuhan menciptakan manusia seturut dengan rupa Nya, sehingga pasti Cinta Tuhan pun akan mengikuti senantiasa. Hanya saja, masing-masing pasti memiliki perjalanan pencarian cinta ini sendiri-sendiri.

Banyak cara yang ditempuh untuk menemukan cinta yang sejati ini, pernikahan boleh jadi salah satu diantaranya, atau memilih untuk menjadi single, juga merupakan cara yang lain upaya menemukan cinta yang sejati ini. Saya jadi ingat salah satu quotes yang menurut saya fenomenal, dari salah satu seniman besar Indonesia, Sang Presiden Republik Jancukers – Sujiwo Tedjo, “Menikah itu nasib. Kamu bisa merencanakan menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cinta mu untuk siapa”

Buat seseorang yang pernah mengalami bagaimana menikah, lalu memilih untuk menjadi single, perjalanan pencarian akan cinta sejati saya pribadi boleh jadi belum berakhir. Saya kembali, harus sepakat dengan Romo sahabat saya, bahwa ini adalah pengalaman pribadi dan parsial, layaknya cermin pecah yang hanya bisa dilihat sepotong-sepotong, atau bahkan cermin buram yang sama sekali kesulitan melihat kedalamnya. Hingga kemudian prasarat utama untuk sampai pada Cinta Sejati, adalah tetap berefleksi dengan jernih. Kejernihan pikir dan hati, yang kemudian mampu mengantarkan kita pada Roh yang sejati, hingga kemudian mampu mengucap, “Terjadilah padaku seturut kehendak Mu” Sama seperti ucapan yang senantiasa dilontarkan oleh Bunda Maria, perempuan yang terpilih untuk menemani Sang Putera Allah, sejak dari kandungan, hingga kembali ke sisi Bapa Nya.

Ya,ini bentuk cinta sejati yang kasat mata buat saya.

Hingga saya pun memohon untuk juga mampu senantiasa mengucap “Terjadilah padaku seturut kehendak Mu” saat menjalani lelaku pencarian perjalanan cinta sejati saya. Dan juga mendoakan yang lain untuk juga mampu mengucap kalimat yang sama, dalam perjalanan pencarian cinta sejati masing-masing.

Portal Mimpi, masih belum mandi, sudah menandaskan segelas kopi.

Mengutip beberapa kalimat Paulo Coelho – Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis-