Obat Ngilu

BeFunky_IMG_2040.jpgJangan menanyakan arti kata “Ngilu” sama saya, karena kali ini saya sedang tidak berminat ngobrol panjang lebar soal arti kata itu. Jika ngeyel tetep nanya, saya akan sodori KKBI warisan yang saking tebelnya itu akhirnya jadi multi fungsi buat saya yang, puji Tuhan, dikaruniai tinggi yang tak semampai hingga tetap terkesan imut dan manis. Atau kalau masih tetap nekad nanya, saya akan buka aplikasi online dan menyerahkan pada anda. Pokoknya saya sedang tidak mau berbusa-busa yang berujung bisa, hanya demi satu kata “Ngilu”.

Saya tahu pasti bagaimana ngilu bisa sangat harfiah buat saya. Sebagai perempuan yang memiliki 2 hari sakral setiap 28 hari sekali, saya mendefinisikan ngilu sebagai sebuah kondisi, saat, pucat adalah efek hasil cream perawatan wajah, kram perut dan punggung pegel merupakan hasil latihan aerobic berkombinasi body langguage yang dilakukan bersamaan sekaligus, hormon progresteron yang membumbung jumlahnya hingga ga’ perlu beli push-up bra hanya untuk tampak lebih terlihat, ehm, penuh.

Fisik yang sedang berkomunikasi aktif itu, kemudian berdampak pada situasi non-fisik, meski bukan meta-fisik yang, yah…, tidak terlalu bersahabat tampaknya. Jangan deket-deket saya kalau saya sedang dalam hari sakral saya, kecuali, kalau lagi pingin yang pedes-pedes, sementara sambel di tukang bakso tidak mengakomodir selera, nah! silakan deket-deket saya, terjamin kok pedesnya. Ini serius. Tapi saya tidak menjamin resiko lain, seperti kuping merah, dan mata berair ya. Hehe…, peluuuuukkk!!!

Beruntungnya lagi, dengan kondisi fisik yang demikian, hyuh, itu. Saya termasuk golongan orang yang tidak bisa menikmati hasil cipta karya manusia berwujud analgesik, alergi salah satu dan salah banyak kandungan pembentuk analgesik membuat saya harus pasrah, nerimo ing pandum, ketika segala rasa yang berhubungan dengan nyeri dan segala bentuk istilah lain yang menyertai. Di kepala saya menanamkan, segala jenis analgesic itu hanya manipulator syaraf-syaraf mu nak, yang penting tetap kesadaran akan hati dan jiwa mu. Termasuk sadar kalau PMS* itu suuaaakkiitt nya bukan main. Hihihi.

Tapi kenapa orang kemudian membuat analgesic sih?

Terlepas dari saya yang memang tidak bisa dengan jenis analgesic tertentu, saya coba cari tahu soal obat ini. Ternyata, orang Mesir kuno sudah membuat suatu senyawa penekan rasa sakit yang dibuat dari daun willow. Sementara pada saat yang bersamaan, dari catatan yang tertinggal di ukiran batu, bangsa Sumeria juga menggunakan senyawa yang serupa untuk pengobatan berbagai jenis penyakit sejenis. Tahun 400 SM, Hippocrates kemudian menggunakannya sebagai tanaman obat yang kemudian tersebar luas, dan mengilhami penemuan dan pengembangan jenis obat dewa ini.

Obat dewa?

Iya, analgesik memang obat yang diciptakan untuk mampu menekan segala jenis sakit, dan mengubah persepsi terhadap kesakitan. Bahkan untuk jenis analgesik opidium, obat ini mampu menekan sistem syaraf utama, hingga banyak yang kemudian terus pingin kesakitan, terus dan terus sakit. Supaya bisa tetap tenggelam dalam rasa nyaman semu itu. Tanya mereka.

Lalu, ada urusan apa antara analgesik dengan kita sebagai manusia?

Menurut saya, setiap orang mampu menjadi pereda rasa sakit bagi sesamanya. Ya. Sebagai mahluk Tuhan dan bagian dari alam raya. Manusia pun menjadi bagian dari manusia yang lain, dengan rasa yang sama, perasaan yang sama, naluri yang sama. Sehingga ketika sesama dalam kondisi tidak nyaman maka semestinya, kita juga mampu merasakan hal yang sama. Wujud nyatanya kemudian berupa kepedulian.

Contohnya begini, ketika saya sedang pringas-pringis nahan ngilu, salah satu sahabat  saya kemudian bertanya, “lagi dapet ya?” lalu kemudian tanpa diminta, segelas teh manis panas muncul di meja, dan elus-elus di punggung pun dilakukan. Atau kalau saya sedang sangat tidak mampu menahan diri, banyak mengomel, dan kata kampret yang keluar dari mulut saya tidak dengan makna positif, maka kembali, sahabat saya akan bertanya “lagi dapet ya?” namun kali ini bukan teh manis panas dan elusan sayang yang saya dapat, melainkan doi akan ngaciiiiirrrrr. Dengan menyisakan tanya di kepala saya, nih orang ambigu apa ya?

Namun bagaimanapun wujud kepedulian itu, baik yang benar-benar mewujud berupa tindakan nyata, maupun yang terejawantahkan dengan diam, sehingga terkesan tidak ada gerakan, itu hanya sebuah pilihan saja.

Saya menyakini, manusia terlahir dengan naluri kasih, hingga kemudian melayani semestinya juga menjadi bawaan lahir. Tidak perlu keahlian khusus untuk menjadi ‘ada guna nya’ buat sesama. Apapun bentuknya. Bahkan, berdiam diri pada saat sesama dalam kondisi tidak nyaman pun juga bermanfaat. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Karena diam juga merupakan titik gerak, bahkan gerak dalam diam itu justru luar biasa hasilnya. Tonton saja film bertema soal ninja, sang ksatria yang selalu hidup dalam bayangan itu kalau mau tahu banyak soal diam.

Balik lagi soal menjadi “pereda rasa sakit untuk sesama”, pertanyaan terakhir saya, jenis pereda rasa sakit apakah kita?

Pada dasarnya, baik yang jenis tetap mempertahankan kesadaran atau menghilangkan kesadaran, analgesik itu bersifat sementara. Ya, sementara. Sumber lara derita nya tetap harus disembuhkan. Karena, jika yang menjadi sumber tidak diurus, maka sama seperti analgesik kimia, dampak yang ditimbulkan boleh jadi tidak asyik. Residu dari yang menumpuk di hati boleh jadi akan menjadi sumber derita baru. Ketidak puasan, penyesalan, dendam, dan lain sebagainya. Sungguh itu tidak asyik.

Buat saya, tetap menjaga kesadaran merupakan kunci menjadi “obat ngilu” yang baik, meski boleh jadi belum tentu benar.

 

Pagi di Portal Mimpi, niat bekerja tapi malah menulis, tak apalah, demi sebuah pelajaran baru pagi ini. Diiringi indie music yang memanjakan telinga, teh panas, dan kepulan asap nikotin batang terakhir. #ASD