Belajar Kata

Spiritual. Dalam KKBI, spritual termasuk dalam golongan kata sifat yang berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani,batin) – dikutip plek seperti dalam kamus. Sedangkan spritualitas, menurut Wikipedia merupakan pencarian untuk yang dikaitkan dengan “kudus,” di mana “suci” secara luas didefinisikan sebagai sesuatu yang diatur terpisah dari umumnya dan pantas dihormati. Definisi yang terlalu luas menurut pemahaman awam saya. Namun kenapa kemudian spiritual dan spiritualitas menjadi sesuatu begitu penting, sehingga mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi para praktisi yang berkarya di wilayah ini, apapun bentuknya.

Merujuk pada penjelasan di KKBI, ketika spiritual digolongkan dalam kelas kata sifat, artinya kata ini merupakan perubahan dari kata benda atau kata ganti dengan tujuan memberikan kejelasan atau penegasan atas sesuatu yang mampu menerangkan kuantitas, kecukupan, urutan, kualitas, maupun penekanan suatu kata. Maka kata spiritual kemudian menjadi penjelas atas kata lain yang berhubungan dengan nya, yakni kejiwaan. Kata kejiwaan sendiri berasal dari kata dasar, jiwa. Dengan tambahan konfiks “ke-an” membentuk kelas kata yang menyatakan hasil perbuatan atau keadaan dalam pengertian umum yang menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan kata dasar. Saya tidak akan mengulas lebih panjang lagi soal pembentukan dan perubahan kata ini, akan membuka luka lama, saat PPL Bahasa Indonesia di SMP ternyata tidak jomblo. Jleb!

Ya, spiritual ini soal Jiwa.  Sesuatu yang sampai saat ini sebenarnya tidak mampu terdefinisikan dengan jernih, tetapi merupakan sesuatu yang paling utama dalam hidup.

Cerita fiksi Frankenstein memberikan gambaran nyata bahwa manusia memang mahluk yang dicipta sesuai dengan citra Sang Pencipta, dengan kemampuan yang nyaris sama. Di film itu, organ-organ bekas, dikumpulin, dirakit kembali, lalu dialiri dengan daya listrik jutaan mega volt, dan tadaaaaa…., manusia ciptaan manusia pun mengedipkan matanya. Atau situasi ilmiah lain, negara-negara yang punya daya teknologi tinggi, sibuk berlomba-lomba menciptakan robot-robot yang direkayasa untuk menyerupai manusia, jenis humanoid misalnya. Yang dengan alasan efisiensi dan lain sebagainya, dibuat untuk menggantikan manusia, mulai dari sektor industri, kegiatan rumah tangga domestik, bahkan sampai urusan kasur. Dan rasanya, Sang Pencipta pun akan berkacak pinggang, dengan pose sedikit arogan, dan berkata “kalian memang ciptaanku yang hampir sempurna”.

Yah…, hampir sempurna karena apapun hasil cipta karya manusia yang plek pun tetap tidak akan mampu sama dengan karya Sang Pencipta. Kemampuan memberikan jiwa, mutlak menjadi milikNya. Dan manusia memang tidak berada di wilayah ini, konon katanya ini area terlarang.

Lalu apa keterkaitan spiritual dan jiwa. Banyak orang bilang bahwa spiritual sejatinya merupakan ilmu pengetahuan yang memberikan pemahaman dengan jelas terhadap keberadaan manusia, relasi dengan alam semesta secara horisontal, dan relasi personal dengan Sang Pencipta, dipersatukan oleh realitas tertinggi serta kecerdasan abadi. Karena berkorelasi dengan relasi dengan Dia sang Maha dan alamraya, maka kerapkali spiritual dikaitkan dengan soal-soal keagamaan hingga soal mistis. Namun menurut saya, spiritual boleh diterjemahkan dengan pola pandang berbeda sebagai spirit (roh), yang aktual (nyata).

Buat saya pribadi, spiritual dan spiritualitas merupakan runtutan sebab akibat. Kegelisahan jiwa akan sesuatu yang tidak mampu terdeskripsikan dengan baik, tanya yang senantiasa mengiringi setiap jawaban, mau tidak mau akan membuat manusia untuk melakukan pencarian, apapun bentuknya. Mau bertapa tujuh hari tujuh malam di dalam hutan larangan, berharap ketemu bidadari eh adanya nyamuk. Sibuk mengikuti deretan aktivitas di tempat ibadat masing-masing. Atau memilih menuliskan kegelisahan sendiri sedari adzan subuh berkumandang, seperti yang saya lakukan sekarang. Tanpa peduli akan raga yang sedang luluh lantak terserang penyakit susah merem. Ngelesnya sih. “insomniaku karena tuntutan jiwaku, demamku karena psikotomatisku” #halaaaaaaahhhhhhh.

Namun, ya, ini soal perjalanan pencarian jawaban atas kegelisahan dan pertanyaan jiwa, hingga kemudian kata spiritual menjadi kata yang bermakna dan berfungsi sesuai kaidah Bahasa Indonesia. Kata yang mampu memberikan penjelasan atas kondisi jiwa kita masing-masing. Kondisi yang bagaimana? Saya, sementara ini hanya memiliki tiga cluster; kering, nyemek-nyemek, dan basah. Dan setiap manusia tidak akan pernah berada dalam satu kondisi dalam satu waktu tertentu, atau berhenti di satu kondisi. Kalau berhenti, artinya njenengan harus siap untuk bertanya, “kenapa dengan jiwaku” dan mengunjungi para ahli jika perlu.

Masih di portal mimpi dengan kantuk yang menyerang terlambat.