Someone to share with

resah di dadamu,
dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini.
dipisah kata-kata
begitu pula rindu.
lihat tanda tanya itu.
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi – AADC2

Well…, pagi ini saya mendapat kabar yang sejatinya biasa saja, wajar, umum. Namun ketika berita itu datangnya dari sahabat hati saya, cinta perempuan saya yang gak pernah jadi cinta terakhir, yah…, mau gak mau bikin sedikit baper – bawa perasaan- juga.

“Gua putus…” begitu kalimat yang tertera di bbm saya, catatan: kalimat tidak sepenuhnya seperti itu, mengingat confidentiality pelaku. Sejenak saya diam, jujur, saya bingung mau jawab bagaimana. Menjaga perasaan yang lagi kacau balau itu , jujur, susahnya minta ampun. Lalu saya putuskan buat menjawab begini, “Asiiikkk…, welcome to the club” kebayang kan bakal bagaimana reaksi dia. Tapi buat saya, ledakan ngambek dia itu lebih baik, daripada saya harus mendengar suara isak tangis dia di ujung sana, sementara tangan saya tak mampu merengkuh dia dalam dekapan. Meski kalau sudah begitu, biasanya kami akan nangis bareng, lalu ketawa lihat muka jelek kami pasca nangis.

Saya berpikir dengan sungguh, membaca kembali kata demi kata di bbm saya, lalu ingatan saya melayang pada suatu pagi, saat dengan remuk redam saya melipat satu persatu pakaian, lalu memasukkan dalam tas hitam berlipit orange itu. Mengambil perlengkapan mandi, menatanya dengan perlahan ke dalam bath traveler lalu melesakkan ke tas hitam. Bertanya, “mau bawa sepatu yang mana?”, lalu kembali melesakkan sepatu yang dipilih. Setelah semua yang diinginkan masuk ke dalam tas. Saya berdiri, memeluk, dan mendengarkan segala permintaan dan pesan. Melafalkan segala doa yang saya ingat di telinganya. Lalu mengucap janji, mengikat komitmen, dengan uraian air mata, yang segera saya hapus. Saya tidak mau air mata yang mengantar perjalanannya. Sungguh, kecup hangat di bibir ini, sesaat sebelum pintu taxi tertutup masih terpatri di hati.

Ingatan yang sesaat bikin lupa kalau saya masih menikmati hangatnya matahari pagi itu lalu terputus gara-gara trailer AADC2, suara dalam Nicholas Saputra membuyarkan lamunan saya. Kampret! ini jelas halusinasi. Sadarlah hai perempuan, laki-laki itu tidak mengenalmu, kenapa kamu masih melting saat dengar suaranya??!!

Saya lalu mencari trailer AADC2, dan nemu adegan saat Rangga dan Cinta duduk berdua di sebuah cafe, kenapa gak di angkringan ya? Jogja gitu loh. Namun mungkin, cafe terlihat sebagai satu tempat yang lebih private untuk dua orang yang dalam perasaan yang campur aduk, saya mengistilahkan dengan ‘rasa antara’. 14 tahun ditinggal Rangga yang janji akan kembali dalam satu purnama, sementara kenyataannya ada 12 x 14 purnama, yakin bikin perasaan Cinta amburadul. Rindu dan sebel, sayang dan kekecewaan, cinta dan amarah, ketakutan dan harapan. Walah…, kebayang rasanya. Dan masih dari adegan trailer, saat Rangga bilang ” apa yang saya lakukan ke kamu itu tidak adil” asli bikin saya mau lempar muka Rangga pakai asbak. Enak saja bilang begitu! Menggantungkan perempuan begitu lama dalam ketidak pastian?! halooooo… Namun kemudian saya melihat Cinta yang dengan manis namun teges bilang “Rangga, yang kamu lakukan ke saya, itu jahat!” sungguh, itu girlpower banget euy.

Kisah Mas Rangga dan Neng Cinta ini, mungkin bisa jadi inspirasi bagaimana menyikapi sebuah keadaan. Dalam sebuah diskusi dengan seorang teman nge-beer baru, saya belajar tentang menyikapi ketiadaan akan keberadaan. Ketika seseorang yang biasa menjadi tempat kita berbagi, kemudian tiba-tiba menghilang, maka sejenak akan ada kekosongan. Logis saja sih, ini soal kebiasaan saja. Kebiasaan ngurus orang tiap hari, mantengin hp tiap hari, dikelonin tiap hari etc. Mudah di omong, gak mudah di jalanin, tapi pasti bisa melewati.

Soal lain mungkin soal komitmen. KKBI menyatakan, komitmen merupakan perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Dimaknai lain sebagai kesetiaan, mungkin. Tapi sejatinya apa makna komitmen itu? Masing-masing bebas memaknai tentunya. Saya tidak bisa mengukur, kalau toh memang ada ukuran soal komitmen ini, namun bisa kita lihat sesuai konteks.

Guyonan suatu sore dengan teman nge-beer saya tentang komitmen laki-laki pada istrinya, dan pernyataan, bahwa laki-laki tidak bisa hanya dengan satu wanita, yang berujung pada debat kusir sak jarane saat mulai masuk soal kesetiaan, cinta dan sebagainya. Saya berpikir, untuk melihat kembali komitmen yang diutarakan si laki-laki, misalnya saya berkomitmen untuk menikahi mu dan menjadikan kamu satu-satunya istriku. Nah! ketika kemudian dia punya, yaaaaahhh…, gebetan atau apapun namanya, saya rasa dia gak nyalahi komitmen dia kok. Atau misalnya seperti seorang perempuan yang berkomitmen, hatiku ini milikmu sayang. Ketika kemudian ada laki-laki lain yang datang menawarkan, ehm… sedikit kenikmatan jasmaniah mungkin. Apakah dia menyalahi komitmen? buat saya tidak. Karena my body my choice. Saya mengungkapkan pikiran saya ini pada teman sore kemarin. Dan herannya, dia mengiyakan. Sambil ngomong, perbedaan laki-laki dan perempuan itu sebenarnya cuma soal restu sosial.

Yaaaahh…, restu sosial. Sejenis perbedaan atas orientasi seksual, atau pilihan akan cara menjalani hidup. Sejatinya cuma restu sosial.

Sejenis siang ini, saat akhirnya kembali saya pantengin manisnya Rangga dan ayunya Cinta, untuk kesekian kalinya. Sedikit meleleh dan berdesir, ketika Rangga mulai berkata-kata tajam, dan ikut tersipu ketika Cinta merasakan segala gundah gadis usia belasan. Ah benarkah saya perempuan dewasa?! ternyata romansa memang mampu menyerang siapa saja. Karena cinta memang tak punya batas apa-apa.

Keheranan saya kemudian ketika cinta mulai dikaitkan dengan komitmen, sehingga cinta menjadi, seolah punya banyak syarat. Ketika cinta kemudian menjadi begitu mengikat, ketika cinta kemudian berujung sebuah keharusan. Maka bersiap saja untuk merasakan sakit, tatkala cinta mulai dengan permainannya. Dan saya menjadi sedikit sepakat dengan Rangga, soal jurang kebodohan dan keinginan atas sebuah pemilikan. Karena saya kemudian kesulitan memaknai cinta yang tanpa syarat…

Ah…, sahabat hati ku. Ku rasa, ini bukan soal kenapa kita begini. Namun mungkin memang belum saatnya saja kita menemukan orang yang tepat untuk saling berbagi rasa. Aku yakin, kamu dan aku akan mendapatkan saat itu kembali. Mau satu purnama seperti janji Rangga ke Cinta, atau ratusan purnama kemudian kata Mak Melly.

Portal Mimpi, dan masih jatuh cinta sama Rangga!

rangga-aadc