Silent Eclips

Sejak beberapa hari yang lalu jagat Indonesia, online maupun offline sibuk kasak-kusuk tentang fenomena alam langka saat matahari, bulan, dan bumi berada dalam satu garis lurus. Ya,rindu dendam sang bulan pada sang matahari pun terbayar hari ini, meski bumi untuk sesaat tak dapat merasakan dekap hangat sinar surya. Kisah LsDR -Long(s) Distance Relationship, sengaja ditambah ‘s’ biar sedikit dramatis- mereka pun memang jadi pelajaran berharga bagi kaum bumi yang mungkin sedang dalam situasi yang sama.

Bersyukurlah kalian yang (hanya) terpisah jarak dan waktu, serta masih bisa ngakalin dengan bantuan teknologi, yang asal jaringan kenceng masih bisa saling lihat muka belum mandi masing-masing hihihi. Lha bulan dan matahari ini, benar-benar harus atas ijin Allah ta’ala untuk ketemu, dan bersatu melepas rindu. Dan ketika mereka bersatu, lalu bumi digelapkan sesaat, bukan berkamsud tidak mau membagi kebahagiaan, namun mungkin memang ada hal-hal yang tidak layak dan pantas diketahui oleh mahluk bumi, sensor bahkan juga terjadi di alam raya. Maka, gak salah-salah juga kalau lembaga kita yang punya otoritas sensor jadi suka main blurring sana sini. Mereka juga belajar pada alam.

Asiknya lagi, tahun ini fenomena gerhana matahari total ini bertepatan dengan tahun baru Saka bagi umat Hindu. Makna Amati Geni  dalam catur brata pun menjadi sangat harfiah, ketika alam pun juga ikut campur tangan. Dunia menggelap dalam hening. Saya teringat tulisan sang kekasih tentang hening, malam, dan gerak dalam diam. Ya, untuk mengurai rahasia tertinggi memang musti masuk dalam keheningan, sebab seringkali dalam hening ada karya besar di sana.

Sekelas Yesus juga masih berdiam dalam hening di Taman Getsemani sampai berpeluh darah sebelum memutuskan untuk ikhlas tergantung di kayu salib. Sedang, Kanjeng Nabi Muhammad juga menerima wahyu maha sakti bagi umat di keheningan Gua Hira. Sunan Kalijaga juga laku hening sebelum, iya, ikhlas mengemban tugasnya. Masih banyak lagi karya besar yang lahir dalam keheningan, novel roman dari seorang penulis, lukisan maha karya sang maestro, atau mungkin bahkan sajak pilu menyayat kalbu dari seorang penyair.

Buat saya pribadi, gelap dan hening, mengajarkan saya tentang titik. Memaknai kembali hidup dan perjalanan kehidupan. Melihat kembali jauh ke dalam, mendengar kembali apa yang dikatakan nurani, mengurai pesan-pesan ilahi. Hingga jiwa mampu kembali memegang kendali atas segala bentuk kehendak hidup. Berdiam hingga mengerti apa itu bergerak, dan bergerak hingga memahami diam, sebab gerak dan diam, keduanya adalah titik.

Ini kenapa jadi begitu serius ya?! ah saya tidak menyukainya 🙂

Gerhana matahari saat Nyepi. Semoga mampu melepas semua kesakitan nurani. Semoga saat sang mentari kembali memeluk bumi, hangatnya mampu menebarkan semangat serta menguatkan harapan yang tersampaikan ke alam. Ah…, nikmat mana lagi yang mau kita dustakan?!

 

Masih di Portal Mimpi, beberapa saat pasca gerhana matahari, dan masih dalam suasana Nyepi.
Maret, 9th 2K16
*note, pilihan lagu tidak berkorelasi secara langsung dengan tulisan, memang lagi seneng aja.