Menyerpih Serpih Serpih

Mencintai angin harus menjadi siut,
Mencintai air harus menjadi ricik,
Mencintai gunung harus menjadi terjal,
Mencintai api harus menjadi jilat,
Mencintai cakrawala harus menebas jarak,
MencintaiMu harus menjelma aku…

Sajak Kecil tentang Cinta.

Ya, demikian judul dari puisi tersebut. Awalnya saya tidak tahu itu puisi karena saya dengarnya sudah dimusikalisasi dari play list milik si ayang. Baru kemudian saya tahu kalau bait demi bait sendu itu puisi karya kakung Sapardi Djoko Pramono.

Siang ini,untaian bait sajak kecil tentang cinta menyeret saya dalam lamunan, mengingatkan saya pada sejuk air laut yang membuih di kaki saat riak ombak mendatangi batang mati pohon kelapa, tempak saya bengong pagi itu. Angin laut tidak terlalu kejam memporak-porandakan kuncir rambut saya, namun matahari mulai sedikit terik hingga saya musti menggunakan kemeja lengan panjang – yah bagaimana pun, kulit sawo matang saya tidak perlu dibikin matang lagi to? hehe.

Sudah nyaris sekitar setengah jam saya membiarkan kaki saya dibelai-belai ombak kecil, membiarkan butiran-butiran pasir putih yang tak terlalu lembut itu nyelap-nyelip di jemari kaki saya. Mata saya menerawang ke cakrawala tak berbatas di depan saya. Sesekali saya memicingkan mata untuk mencoba melihat lebih jelas perahu nelayan nun jauh di sana yang hanya terlihat bagai titik. Kemudian mendesah panjang.

Pikiran saya seolah tidak mau kompromi dengan apa yang saya lihat di depan mata saya, dia tidak mau kompromi dengan silir angin yang membelai lembut wajah saya beserta dengan bau asin. Kenapa begini kenapa begitu. Kenapa kerang ini terbelah? Kenapa karang itu berlubang? Kenapa pohon yang saya duduki ini rubuh? Kenapa dan terus kenapa, tanpa saya tahu siapa yang akan menjawabnya?

Mata saya kemudian terpaku pada sebentuk benda tak jauh dari kaki saya, kerang, yang kata orang sekitar enak kalau dimakan, saya sudah tidak bisa membayangkan nikmatnya karena saya bukan penyuka seafood, traumatis masa kecil dengan bau amis masih bikin merinding sampai saat ini. Sejenak saya tinggalkan duduk nyaman saya, memungut kerang itu dan mengamatinya dengan sungguh. Kerang ini, cikal bakal butiran pasir di kaki saya mungkin, terseret ombak ke tengah, lalu dihantamkan ombak ke karang, begitu terus berulang-ulang, hingga akhirnya menjadi serpihan-serpihan, membentuk materi yang baru. Ini hukum alam.

Saya letakkan kembali kerang yang saya pungut di tempat semula. Dilema, mau kembali duduk atau jalan menyusuri tepian pantai. Akhirnya saya memilih berjalan saja, tetap membiarkan riak ombak membelai kaki, membujuk untuk ikut bersamanya ke tengah lautan lepas. Namun petualangan tetap petualangan, tepi pantai berpasir putih tetap mengoda kaki untuk terus melangkah. Setiap langkah yang tetap dengan harapan, nemu sesuatu yang asik untuk nanti diceritakan, tentang langit yang biru, air yang tak kalah biru dengan langit, angin yang sedikit usil, atau jasad kering anak pari yang tak sempet menjadi dewasa. Kembali pada hukum alam.

Siklus, ya ini tentang siklus. Hidup lalu mati, tumbuh lalu mati, material baru, lahir baru. Hukum alam, hukum Tuhan. Dan saya pun berada dalam lingkaran hukum itu. Hukum yang tak pernah putus, hukum yang saya tak kuasa untuk melepaskannya meski cuma sesaat. Hukum yang memaksa saya untuk terus tunduk pada Nya, hukum yang membuat saya mengakui segala keringkihan dan kerapuhan saya sebagai mahlukNya. Hingga membuat saya menjadi ikhlas untuk membiarkannya menyerpih dalam serpihan serpihan hidup, hingga alam kemudian membentuknya kembali menjadi material baru, memberi kehidupan baru.

Terjadilah padaku seturut kehendak Mu.

Tetap di ingatan, Biduk-biduk, Labuhan Cermin, Teluk Sumbang, Kaniungan, Merabu – Berau, Kalimantan Timur, November 2015