Pagi ke 365,25

4,4 milyar tahun yang lalu, Theia, sebuah planet kerdil dalam gugusan Bima Sakti mengambil peran besar buat Bumi.  Hantaman Theia saat itu membuat Bumi sedikit mengalami perubahan orbit dan kecepatan rotasi hingga menyebabkan Bumi memiliki bonus waktu sekitar 5 jam 48 menit dan 45,1814 detik setiap tahunnya. Bonus waktu yang kemudian dikumpulin hingga Kabisat menjadi genap 366 hari.

Mekanisme yang nyaris sama dengan ngumpulin free pass rumah karaoke yang sudah lama tidak saya kunjungi untuk sekedar berlatih olah vokal selain di kamar mandi, free 1 jam. Cukup lah buat tambahan standar 2 jam uji coba pita suara.

Waktu.

Kerapkali, waktu selalu menjadi sumber inspirasi. LUCY dan JUPITER ASCENDING yang dibintangi mbak Scarlet dan neng Mila, dua lady paporit saya yang menggemaskan itu, juga bercerita tentang waktu. Belum lagi lagu-lagu yang bahkan dengan gamblang menyebut soal waktu. 25 Minutes nya MLTR, boy band jaman saya masih pake seragam putih biru, 22 Januari om Iwan Fals, 11 Januari milik Gigi, 2 a.m Iron Maiden, dan  Januari Glen Fredly – ups – lha kok ini. Masih banyak lagi lagu bertema waktu dengan segala hiruk pikuk, dan hingar bingarnya.

Lalu kenapa waktu begitu menjadi hal yang istimewa.

Kalique sempet bilang pada Jupiter, “Tidak ada yang lebih berharga di dunia ini selain tambahan waktu”, quote yang nampaknya juga menjadi inspirasi bagi para produsen segala jenis cream yang ada di box saya – yang berharap – mampu mengantisipasi datangnya kerutan di beberapa bagian wajah. Dan sang produsen pun senang karena saya tiap bulan menghabiskan sekian rupiah demi memanipulasi waktu saya. Lhaaaaaa…., malah curhat akhir bulan. Sorry…

Waktu menjadi berharga, mungkin, karena waktu membuat keberadaan kita menjadi nyata. Tidak ada manusia yang mampu berada di beberapa waktu sekaligus. Kembar identik pun tetap pribadi yang berbeda meski secara fisik bisa berada di dua waktu sekaligus. Ini kalau yang kembarnya dua ya, kalo lebih bisa ditambahkan sendiri, saya cukup partisipatif kok J Sejenis saat jauh dari sang yayang, ok lah, sekarang sudah banyak alat bantu komunikasi, telepon yang bisa saling lihat masing-masing lagi ngupil misalnya. Tapi tetap saja si upil yayang tidak dapat kita pegang, karena upil yayang “nyata” di sana, bukan di sini. Waktu membawa kita pada kenyataan, kondisi yang nyata. Lucy pun cukup ekstrim saat menggambarkan waktu, “Waktu yang mengesahkan keberadaan, tanpa waktu kita tiada”.

Ya, waktu membuat kita menjadi eksis, kalaupun tidak ya ngeksis lah minimal, hehe. Salah satu bonus dari sekian banyak yang dihasilkan oleh mekanisme alam raya ini.

Waktu juga yang kemudian mengajak untuk terus bergerak. Alarm di setting untuk jadi penanda waktu bangun, lonceng gereja di dentangkan untuk jadi penanda misa dimulai, adzan dikumandangkan untuk ngingetin cepet-cepet ambil absen sambil ngadep kiblat. Gerak, waktu menyadarkan kita untuk tetap bergerak dalam kehidupan. Meski adakalanya suatu saat juga harus berdiam sejenak untuk mengerti apa bergerak, atau bergerak untuk memaknai diam, karena dua-duanya adalah satu titik dalam satu waktu. Karena waktu adalah perjalanan.

Ah jadi serius begini, gak asik ah, hehe :p

Yeah, pada prinsipnya, buat saya kemudian. Waktu mengajarkan banyak hal. Memaknai dan memahami waktu bisa jadi akan memakan waktu seumur hidup saya. Kebingungan dalam membaca pesan Sang Waktu? Boleh jadi juga saya alami, bahkan sering, namun itu bagian dari kehidupan yang membuat saya tetap yakin bahwa saya masih hidup. Membuat saya tetap dapat menorehkan cerita dalam lembar demi lembar buku milik saya.

Karena saat waktu saya telah sampai, saya akan tersenyum bersama Sang Waktu.

 

Portal Mimpi, 14 Jam 05 Menit Jelang Pergantian Tahun

Semoga Sang Waktu memberikan kemurahan waktu ku dengan mu.