Cakang

Kalau kau sibuk dengan kulit saja
Kapan kau sempat menyentuh isinya?
Kalau kau sibuk menyentuh isinya saja
Kapan kau sampai intinya?
Kalau kau sibuk dengan intinya saja
Kapan kau memakrifati nya-nya?
Kalau kau sibuk memakrifati nya-nya saja
Kapan kau bersatu denganNya?

“Kalau kau sibuk bertanya saja
Kapan kau mendengar jawaban!”

 

Tahun 1987, KH Ahmad Mustofa Bisri, akrab ditelinga dipanggil Gus Mus menorehkan penanya ke dalam puisi lembut berjudul “Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat”. Puisi sepanjang lebih dari sepuluh bait itu seringkali beliau bacakan di forum-forum mahasiswa kala itu. Sebagai seorang budayawan, Gus Mus kerap mengetuk hati nurani dengan sajak-sajak yang bertema kemanusiaan, bahkan salah satu puisi yang digubah beliau kemudian menjadi salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Bang Iwan Fals, Aku menyayangimu judulnya.

Saya tidak akan bercerita tentang Gus Mus di sini, karena saya yakin mbah gogo punya segudang cerita tentang beliau. Saya hanya ingin sejenak melihat ke dalam kemudian memaknai dengan sederhana apa yang saya lihat di dalam sana.

Seringkali kita, manusia menciptakan -sadar atau tidak- cakang kita masing-masing. Apapun bentuknya, cakang yang tidak nampak , cakang yang seolah mampu melindungi, mampu menutupi dari segala kerapuhan diri kita. Ya, kita kemudian bersembunyi di balik cakang itu.

Adakalanya, kita berharap cakang itu akan membuat kita berubah menjadi sebutir mutiara, namun ada kalanya harapan juga tidak sesuai kenyataan, mutiara terbentuk, namun tetap saja rapuh, bukan jadi mutiara lembayung yang kalau dijual nol dibelakang angka luar biasa jumlahnya. Ada kalanya juga kita hanya sekedar bersembuyi saja dibalik cakang itu, namun hasil kontemlasi nampaknya justru mengasah diri menjadi berlian hitam yang kokoh,misterius,dan lagi-lagi mahal.

Petikan puisi Gus Mus seolah menyentak saya, tentang apa yang sedang saya lakukan di dalam,di balik, cakang yang saya bangun dengan sadar. Apa yang saya inginkan dalam hidup? Bagaimana saya memaknai kehidupan? Apa yang saya akan lakukan untuk memaknai arti hidup dan menjalani kehidupan, sebagai pencapaian tertinggi manusia.

Di sisi lain, saat panggilan hidup mulai menyentak-nyentak, kadangkala musti menghadapi realita hidup kadang kacrut. Lalu bagaimana? Mau marah? Sedih? Putus Asa? apes-apesnya ya ambil cutter lalu potong nadi, niat mulia untuk masuk surga dan meninggalkan neraka bagi orang sekeliling. Shortcut yang umum bagi mahluk rentan berlabel manusia ini. Kalimat sakti yang kemudian menjadi litani adalah, sabar, ikhlas, tenang, jernihkan pikiran, banyak doa. Normatif.

Namun kembali saya tersentak, kalau sibuk bertanya, kapan dengar jawabannya? Bisa jadi memang bukan kapan dengar jawabannya, namun memang tidak mau mendengar jawabannya. Hehe.

Manusia memang mahluk lemah, mas Sting pun juga bilang begunu, fragile  kalau kata dia mah. Jadi, jika memang mahluk yang lemah, kenapa kemudian sejuta rasa itu dikaruniakan pada manusia? Nanya lagi kan…, sebodo lah, wong nanya juga gak dilarang, bahkan kekasih saya juga melatih kemampuan bertanya nya dengan sungguh-sungguh kok. Tapi mungkin, ini mungkin lo ya, supaya manusia menyadari bahwa dia memang lemah, memaksa manusia untuk mengakui kelemahan, menerima kelemahan, lalu menghormati Sang Pencipta dengan berserah secara penuh pada Nya. Tadaaaaa…., yang dianggap normatif tadi lalu memang benar jadi kalimat sakti.

Jawaban yang sederhana, sesederhana kata Budha, Manusia ini hanya terdiri atas tanah, air, api dan udara. Sedulur papat limo pancer kalo kata mbah Kakung saya. Lalu apa manusia ini? Siapa manusia ini?

Kembali berakhir dengan pertanyaan, yang semoga mengawali proses persatuan manusia dengan Nya.

La ilaha illallah al malikul haqqul mubin Muhammadur rosulullah shodiqul wa”dil amin 

Rumah Kemuning

Ini hari Jum’at, sudah 31 hari sejak hari itu.