Belajar Mengeluh

Awalnya, saya abai dengan lagu ini. Yang saya tahu, lagu ini menjadi OST Film GIE yang dibintangi aktor kesayangan saya, ayank Nicho yang buat saya,hiiiyyyuuuuuhhh banget itu. Lagu ini juga jadi mood booster kala segala sesuatu di sekeliling serasa bertumpuk. Bait ke tiga setelah chorus menjadi bagian paling saya sukai dari lagu ini, rasanya itu – mak jleb. Langsung pas ke titik itu, red- tunjuk hati.  

“Stop complaining”, said the farmer, Who told you a calf to be, Why don’t you have wings to fly with, Like the swallow so proud and free.

Tentang lagunya sendiri, dari beberapa perjalanan singkat di dunia maya. Lagu ini aslinya berbahasa Yiddish, bahasa bangsa Yahudi-Ashkenazim, yang terkenal cerdas-cerdas itu. Bahkan kabarnya, mbah kung Einstein juga merupakan trah dari golongan  Yahudi-Ashkenazim ini. Kebayang kan kalau dari kaum ini menelurkan para pemikir hebat yang membuat perubahan di dunia. Nah, balik ke lagu, judul versi aslinya itu Danna-danna, iramanya sedikit rancak, dengan nuansa timur tengah yang sedikit kental. Lagu ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Aaron Zeitlin bersama komposer Shalom Secunda, sedangkan versi yang lazim kita dengar dari lagu ini adalah yang dinyanyikan Joan Baez di tahun 60 an.

Banyak sekali intepretasi yang muncul dari lagu ini, secara harfiah, ada yang menyatakan bahwa lagu ini adalah cerita tentang kekejaman Nazi yang membantai bangsa Yahudi waktu itu. Namun ada juga yang menyatakan bahwa lagu ini adalah tentang perjalanan hidup manusia menuju pada sesuatu yang hakiki dalam kehidupan. Saya sendiri lebih memilih memaknai lagu ini sebagai cara bagaimana saya memahami tentang sebuah keluhan.

Disadari atau tidak, adakalanya saat menghadapi sesuatu yang mentok, mau soal pekerjaan, percintaan, perjalanan, permainan, dan semua kata benda yang berawalan ‘per’, kita lalu mengeluh. Trus kepikiran, kenapa aku gak begini, kenapa aku gak begitu, kenapa aku gak menjadi ini, kenapa aku seperti itu. Trus lama-lama nyanyi lagunya neng Ayu Tingting, ‘kemana… kemana… kemanaaaaaaaa’.  Ya sebenarnya manusiawi juga kalau mengeluh, wajar kok, sangat. Namun semestinya kita lalu mencari tahu kenapa kita mengeluh. Wheeewww…, udah bunek, masih disuruh cari tahu kenapa mengeluh. Maksudmu opo yooooooo????  sambil ancang-ancang nyambit sendal.

Jadi begini, meskipun mengeluh itu sesuatu yang wajar, namun akan jadi tidak wajar jika hanya sekedar mengeluh. Kalimat saktinya; ‘mengeluh kok terus????!!’ Di atas tadi saya sedikit menyinggung tentang bangsa Yahudi-Ashkenazim yang puuuuiiiiinteeeer itu, nah ternyata penyebab mereka menjadi bangsa yang terkenal cerdas itu bukan karena sebuah kalimat; ‘ memang bawaannya pinter’ atau ‘udah dari sononya’, tapi karena keadaan yang memaksa mereka untuk menjadi bangsa yang tangguh. Sejarah bercerita tentang kaum Yahudi yang hidup dalam tekanan dan tak mampu berbuat apa-apa lagi. Satu-satunya pilihan yang mereka miliki adalah mereka HARUS menjadi lebih unggul dari bangsa lainnya. Situasi yang mengingatkan akan nasehat seorang sahabat, ‘push yourself to the limit, even we know both, that the limit doesn’t exist’ kala saya mulai menyusun argumentasi untuk sebuah keluhan.

Hal lain yang penting adalah memiliki kesadaran penuh saat mengeluh, artinya tetap sadar dan paham kalau mengeluh tidak akan menyelesaikan apa yang kita hadapi, mengeluh hanya sekedar melepaskan beban yang ada di pundak dan dada semata. Karena mengeluh adalah mekanisme pelepasan, bukan mekanisme penyelesaian.

Terakhir. Anugerah luar biasa yang diberikan Sang Pemilik Alam pada kita adalah kebebasan untuk memilih. Jadi silakan kemudian dipilih, sekedar melepaskan dengan melontarkan keluhan, atau melepaskan dan menyelesaikan. Semuanya tetep sahih untuk dilakukan. Yang penting, segala pilihan yang diambil mestinya memiliki alasan yang kuat mengapa kita mengambil pilihan itu.

 

Portal Mimpi – Sambil dengerin Om Iwan nyanyi.