Rindu Dendam

Seringkali, rutinitas membuat kita lupa akan hal-hal kecil yang sejatinya dibutuhkan oleh nurani kita. Padahal, mungkin, hal kecil itu yang sejatinya kemudian membuat kita benar-benar merasakan hidup.

Ini adalah sebuah kisah dalam pemaknaan perjalanan kehidupan.

Hari ini, adalah hari ke delapan saya meninggalkan segala rutinitas saya di ibu kota negeri ini. Kota dengan segala carut marut, segenap kepadatan dan kepulan asap, diantaranya juga asap saya sendiri.

Berawal dari pagi selasa pekan kemarin, saya bertolak dari Jakarta menuju Surabaya, rute yang sudah lama tidak saya ambil saat hendak mengunjungi si nona kecil. Dengan segala estimasi waktu yang saya pikir matang, harapan untuk bertemu dengan nona kecil di tengah hari yang sama cukup besar di hati saya. Namun, sebuah perjalanan, bisa berarti sebuah petualangan lain dalam hidup.

Sejatinya banyak maskapai dengan penerbangan yang tidak berisiko, namun saya memutuskan untuk memilih maskapai yang penuh resiko ini, karena mereka punya jam penerbangan paling pagi, sekali lagi ini pertaruhan. Dan yang terjadi terjadilah. Pesawat rusak, dan penerbangan tertunda sekitar hampir dua jam. Selamat tinggal tiket kereta yang telah terbeli.

Mendarat di Surabaya yang terik di siang hari membuat saya kemudian memilih untuk tetap naik kereta, kali ini dengan pilihan kelas ekonomi. Kabar yang saya dengar, KA Kelas Ekonomi pun sekarang sangat nyaman,tidak ada salahnya to mencoba hasil rombakan sistem mas Ignatius Jonan yang sekarang sudah mentri itu.

Stasiun Gubeng Surabaya membagi area mereka menjadi dua, KA Kelas Eksekutif di Stasiun Gubeng Baru, sedangkan KA Kelas Ekonomi di Stasiun Gubeng Lama. Ok. Berhubung taxi yang saya tumpangi menurunkan saya di Gubeng Baru, saya menumpang becak Cak Mul, laki-laki asli Bangkalan Madura yang sudah puluhan tahun mengadu nasib di Surabaya, ke Gubeng Lama. Perjalanan yang tak sampai 10 menit itu cukup membuat saya mengetahui, kalau Cak Mul telah sukses mengantarkan anak sulungnya menjadi sarjana dari hasil jerih payah narik becak di tengah teriknya matahari Kota Pahlawan.

Tiba di Stasiun Gubeng Lama saya langsung menangkap dan menyerap atmosfer yang berbeda. Hiruk pikuk suara, langkah kaki bersliweran, kardus-kardus yang ditenteng, anak-anak berlarian dan menangis, dan pedagang yang tak putus asa merayu untuk beberapa lembar uang recehan. Saya menyerap semua itu seiring dengan hisapan demi hisapan nikotin yang memenuhi rongga dada.

Masih terpatri di kepala saya, saat seorang ibu dengan penuh kasih sayang menenangkan sang tuan kecil yang rewel karena dirundung kantuk, sementara sang bapak asyik dengan adik si tuan kecil yang tak berhenti berlarian. Tepat di belakang si ibu, gadis kecil yang lain sibuk dengan sebatang pipa yang dianggapnya kran air, dia sedang berwudlu! Di sudut, ada seorang bapak seusia bapakku sedang asyik bercengkrama dengan seorang pemuda, saya penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Tentang ekonomi yang semakin sulit kah, tentang jatah untuk istri yang kian hari tak cukup, atau tentang batu akik yang sedang booming belakangan- entah.

Tak jauh dari si bapak, ada si buyung yang asyik dengan mainan barunya, sebuah kotak plastik yang bahkan kebih besar dari tubuhnya, berwarna kuning, dan saya rasa itu pasti bau –tong sampah—Namun si buyung tampak asyik sekali, sesekali bahkan memasukkan kepalanya ke dalam tong sampah itu, didorong maju mundur, saya menunggu dia bosan lalu menjatuhkannya, sayangnya itu tidak terjadi. Kembali saya menghisap rokok saya, dan membidikkan kamera kecil saya pada si buyung. Sungguh, ini moment yang luar biasa bagi saya, kesempatan mahal berdiam dan hanya mengamati, sembari menikmati semilir angin di tengah aroma khas ibu kota.

Obrolan saya hanya terjadi sekali, dengan serombongan anak muda yang hendak menuju Rinjani. Obrolan haha hihi ngalor ngidul, tawaran untuk mengikuti mereka ke Rinjani yang saya ganti dengan tawaran untuk mengikuti kelas berbagi di markas. Kami berpisah karena kereta yang akan membawa saya ke nona kecil sudah memanggil, saya bahkan tak sempat tahu nama masing-masing mereka, namun salah satu diantara mereka menyematkan gelang tali prusik, khas anak gunung di tangan saya, dan saya tukar dengan kartu nama. Pertukaran yang mungkin aneh. Tapi tak apa, Penabulu selalu punya daya tarik tersendiri.

Jelang sore, nona kecil sudah berada dalam pelukan saya kembali. Segenap celoteh hingggap di bibirnya, riang manja. Dan sederet aktivitas sudah ada dalam daftarnya untuk menikmati libur Paskah bersama sang bunda.

 

-Kenangan Akhir April 2015-

Rumah Kemuning,jelang pulang.