Sarapan Pagi

Bentolicious086a

Milikilah seorang suami yang mesti ngantor pagi,  dan temuilah keindahan di setiap pagi.

Kalimat itu bukan quotes dari siapapun, murni milik saya sendiri berdasarkan apa yang saya rasakan nyaris dua bulan ini. Ceritanya, laki-laki yang entah karena apa, mungkin karena memang saya manis dan menyenangkan, hingga bersedia menua bersama saya sejak bulan kemarin mulai kembali menikmati atmosfer ngantor. Sebuah situasi yang lebih dari sepuluh tahun tidak dia lakukan. Ya, berkarya di sektor nirlaba dan memilih fokus menjadi penulis memang membuat dia memiliki kemewahan yang tidak dimiliki oleh pekerja kantoran durasi delapan jam pada umumnya. Begadang sampai jelek, tidur sampai puas, rambut gondrong brewokan, jeans belel dan kaos usang jadi kostum,  dunia ada di genggamannya.

Nyaris tiga minggu awal merupakan masa-masa jungkir balik buat kami berdua. Ya, kemewahannya artinya kemewahan saya juga, perempuan yang tidak harus ribet di pagi hari dengan urusan dapur. Segala penyesuaian terjadi, mulai dari bangun pagi dan uprek, bahasa Jawa slank untuk sibuk – menyiapkan sarapan pagi, serta menyiapkan tetek bengek lainnya.

Sarapan pagi. Sumpah, saya jadi senyam-senyum kalau ingat itu. Mister gugel tetap menjadi teman setia saya untuk ragam menu sarapan pagi, namun sayangnya segala rancangan menu itu seringkali berantakan mengingat saya juga masih penyesuaian dengan pola bangun tidur pagi lebih awal. Ujung-ujungnya, telur rebus setengah matang menjadi andalan untuk beberapa hari. Pokoknya sampai ekspresinya jadi datar kalau lihat menu sarapannya.

Perlahan, perubahan ekspresi ini mulai terjadi saat jam alami tubuh saya mulai beradaptasi dengan tuntutan ngantor ini. Pagi saya mulai nyaman bangun, dan menu sarapan pagi pun mulai bervariasi, tergantung isi di lemari es, dan sedikit modifikasi dari resep awalnya. Hehe. Saya golongan canggih kalau soal merecycle makanan. Daaaaannn tadaaaaa, selain ekspresi yang berubah, akan muncul pertanyaan “Ini apa bun?” dari dia.

Saya kemudian memaknai apa arti sarapan pagi. Ya, sarapan pagi. Hal yang seringkali terlewat oleh beberapa orang karena kesibukan dan tuntutan ibu kota. Menurut artikel yang saya baca di sebuah situs kesehatan, sarapan pagi akan membantu kita untuk meningkatkan memori otak karena tubuh memiliki energi yang cukup untuk bekal kerja bagian penting tubuh ini. Di sisi lain, melewatkan sarapan pagi, akan membuat sesorang cenderung mengkonsumsi banyak lemak, dan sedikit mengkonsumsi zat penting lain, seperti kalium dan mineral. Jika situasi ini kemudian berlangsung dengan terus menerus, maka dapat dipastikan kadar kolesterol tubuh menjadi tidak seimbang lalu memburuk. Ujung dari kadar kolesterol yang buruk ini adalah resiko untuk obesitas, diabetes versi 2, dan kardiovaskular meninggi.

Hal lain yang menurut saya lebih penting lainnya, dengan menyiapkan sarapan pagi untuk pasangan atau keluarga, maka saya memberikan asupan kasih sayang sejak awal hari untuk mereka. Momen sarapan pagi juga menjadi saat untuk saling berdiskusi tentang apa yang akan dilakukan hari ini, berbagi segala sesuatu yang direncanakan terjadi dalam hidup di hari ini. Sarapan pagi adalah bekal untuk melalui hari. Menyediakan sarapan pagi, berarti memberikan cinta dan  kasih berbonus sehat untuk seseorang yang disayangi.

Jika demikian, apakah harus bertanya lagi untuk sekedar menyiapkan dua butir telur rebus setengah matang dan pisang susu kedelai, jika bayaran dari segala keriwehan pagi adalah senyum yang manis serta kecupan lembut sebelum pamit kerja. Ah…, saya tidak mau menukarnya dengan apapun!

 

Portal Mimpi, Palapa IX16

* sumber: http://www.artikelkesehatan99.com/6-alasan-anda-harus-sarapan-pagi